Mengubah cinta menjadi sahabat itulah yang bisa ku sampaikan untuk sang “aa berjaket” , kuakui aku sangat mengaguminya bahkan mungkin aku mencintainya, dialah yang mampu membuatku melupakan kisah masa laluku, aku baru mengenalnya namun entah mengapa aku sudah dapat merasakan hal ini saat pertama berjumpanya, lelaki yang selaku ku lihat tak pernah melepas jaketnya , dulu saat aku masih dekat dengannya aku sempat bertanya “kenapa aa selalu memakai jaket?” dengan simple dia menjawab “kalau dingin ya pake jaket kalau tidak ya ga pake” aku sempat tertawa mendengar jawabanya, oleh sebab itu ku panggil dia dengan sebutan “AA BERJAKET”. aku selalu nyaman saat berada dekatnya namun aku tak tau apakah dia nyaman saat dekatku ? entahlah yang pasti aa berjaket kini tlah berubah, aku tak bisa lagi berkomunikasi seperti dulu, bahkan saat bertemu denganku kini dia seolah meghindar dariku, aku tak tahu mengapa dia bisa begitu, mungkinkah karena rasa ini ? oh entahlah yang jelas air mataku selalu mengalir saat aku baru sadar bahwa dia kini telah berubah.
Saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa, kisah yang selama ini aku mimpikan saat teman-temanku mengucap kata “adeuh” saat aa berjaket lewat ataupun saat aku sedang di buat salting oleh sang aa berjaket, aku benar benar tak kuasa menahan tangis , saat untuk yang kedua kalinya aku hanya bisa mengagumi dan mencintai tanpa bisa memiliki, padahal aku berusaha keras membuktikan kalau aku mencintainya namun mungkin caraku yang salah sehingga mungkin bukan membuatnya cinta namun membuatnya illfeel, sungguh aku tak bermaksud begitu a :’(
Kemarin aku meluapkan isi hatiku kepada teman yang juga dekat denganku dan dekat denganya, ku jelaskan padanya bahwa aku tak suka dengan sikap aa berjaket yang sekarang, aku ingin aa berjaket yang dulu, yang dekat denganku dan ………
Temanku yang sudah ku anggap sebagai kakak lelakiku berkata “aku harus bisa membedakan. Mana CINTA dan mana NAFSU, bila aku benar menyanyanginya maka biarkan dia bahagia dengan hidupnya, anggaplah dia sahabatmu dan keluarga di organisasi” sungguh aku bingung harus menjawab apa padanya , karena dulu sebelum aku mencintai aa berjaket aku pernah mengalami “CINTA BERTEPUK SEBELAH TANGAN” pada sepupuku sendiri selama 4 tahun, apa harus kembali ku alami cinta seperti itu pada aa berjaket ? tidak cukupkah selama 4 tahun ini aku di buat susah oleh hal itu, perlukah aku memasuki lubang yang sama ?
Namun pertanyaan itu telah bisa ku jawab sekarang, aku tak bisa memaksa aa berjaket untuk membalas cintaku ataupun berkata jujur padaku karena aku tak pernah mengetahui isi hatinya, entahlah biar waktu yang menjawab semuanya. Aku yakin aku takkan memasuki lubang yang sama karena kini aku telah memilih menjadikanya sahabat dan keluarga .
Jika di bilang apa aku masih mencintanya , jujur iya aku masih mencintainya namun kini cintaku telah ku dasari dengan cinta kepada sang kholik karena ku yakin kalau aa berjaket memang jodohku suatu saat lewat apapun caranya kita pasti bersama, bukan aku berharap lebih, namun inilah penyemangatku satu-satunya .
Akupun tak banyak berharap pada aa berjaket karena bila aku terlalu banyak berharap aku malah takut harapanku tak tercapai dan pada akhirnya aku kecewa kembali, kini biarlah aku dan dia menjadi sahabat dan keluarga .
Namun aku sangat amat berterima kasih padamu aa berjaket, karena aa letah membuat hariku indah dan membuatku melupakan masalaluku , maaf aa bila aku sering membuatmu tak nyaman dengan sikapku dan dengan perhatianku yang berlebihan , sungguh aku tak bermaksud begitu a, namunku mohon jangan lagi kau rubah sikapmu semakin jauh padaku, kini kita adalah sahabat dan keluarga, lupakan saja kelebayanku dulu iyaa a , maaf a maaf .
I’m sorry aa ..
Terima kasih aa berjaket …